Kantor petaruh
23 Desember 2005 at 00:45:53 | In Konsultasi, Pekerjaan & karier, Pergaulan | Leave a CommentOrang-orang di kantor saya itu memuakkan. Mereka suka bertaruh. Dari skor sepakbola sampai keputusan direksi dijadikan bahan pertaruhan. Saya nggak suka judi, jadinya risih, tapi saya juga nggak mau dikucilkan. Enaknya gimana?
Susilo, 25, Tamansari, Jakarta
Untuk menunjukkan bahwa Anda bukan outsider ajaklah pentolan petaruh itu untuk bertaruh: apakah sampai awal depan penyakit taruhan itu bisa sembuh.
Thong untuk pria
22 Desember 2005 at 00:33:31 | In Fashion, Konsultasi, Pergaulan | Leave a CommentKantor saya mau outing ke resort yang ada kolam renang. Mayoritas karyawan di kantor saya adalah cewek, rasio cewek dan cowok 7:3. Kemarin waktu ultah saya dihadiahi 3 potong celana renang model thong. Mereka bilang itu harus dipakai di kolam renang. Saya malu, takut bahkan nervous, tapi saya demen berenang. Sekadar catatan, bulu tubuh saya itu banyak. Bayangin kalo harus pakai thong. Di sisi lain, sebagai anak baru, saya nggak berani menolak mbak-mbak cantik yang nakal dan buas itu. Gimana?
Gio, 24, Gunung Sahari, Jakarta
Berenanglah pagi hari saat mereka masih tidur. Kedinginan? Risiko. Atau, tirulah Superman: pakailah celana surfing selutut, thong Anda pakai di luar. Norak tapi yang penting aman dan sudah menuruti kehendak mbak-mbak buas itu. Sayang belum ada Komnas Pria untuk mendampingi Anda misakan Anda terus dipaksa. Tapi kalau ada pria lain yang mau banget, dan boleh menggantikan Anda di kolam, kenapa tak Anda coba?
Singlet = jadul?
21 Desember 2005 at 00:26:16 | In Fashion, Konsultasi, Pekerjaan & karier, Pergaulan | Leave a CommentSaya dibilang jadul oleh teman-teman saya, cowok-cewek, karena saya masih pakai kaos singlet dan terlihat dari luar. Gimana lagi, sejak kecil saya memang selalu pakai itu. Kalo nggak pakai rasanya risih, keringat kurang terserap, kalau hawa dingin badan jadi kedinginant, bahkan bisa masup angin. Mohon advis.
Burhan, 24, Tebet, Jakarta
Pilih yang lebih gampang: Anda sok inovatif, merancang singlet yang tak kentara seperti underwear wanita, dan itu butuh tenaga-waktu-biaya, atau terus bersinglet dan tetap nyaman?
—–
Memperbesar penis
20 Desember 2005 at 00:17:33 | In Asmara & seks, Konsultasi, Masalah lain | 5 CommentsApakah jasa memperbesar ukuran penis seperti Mak Erot dan sebangsanya itu bisa dipercaya? Lantas apa manfaatnya? Bukannya kalo kegedean bisa bikin cewe kesakitan?
Cindy, 24, Kedoya, Jakarta
Bisa dipercaya atau tidak, saya belum pernah membuktikan, lagi pula tak ingin. Tapi cobalah kita timbang dengan nalar. Yang namanya layanan selalu ada kemungkinan gagal. Adakah pasien mereka yang komplain secara terbuka di koran, seperti pemilik mobil yang dirugikan oleh bengkel? Tak ada keluhan bukan berarti tak ada masalah. Lagi pula, yang namanya layanan upsizing mestinya juga sanggup melakukan downsizing, tapi anehnya itu tak mereka tawarkan. Selain itu, testimoni khasiat perubahan ukuran selalu dinyatakan oleh pasien (pria), bukan pasangannya (wanita maupun gay). Manfaat pembesaran penis, misalkan bisa, memang lebih kepada si empunya (bangga, pede), bukan pihak users (lebih nikmat, lebih memuaskan).
Guyon internal
19 Desember 2005 at 00:01:49 | In Asmara & seks, Inilah hidup!, Keluarga | 1 Comment
Setiap pasangan memiliki cara berkomunikasi sendiri. Begitu pun dalam bercanda mesra. Bahwa humor mereka kadang tak dipahami orang lain, itu masalah orang lain, bukan pasangan itu.
—–
Atas boleh tua, bawah selalu muda
18 Desember 2005 at 00:34:00 | In Asmara & seks, Inilah hidup!, Pergaulan | Leave a CommentKenapa pria tua cenderung suka pamer potensi jika menyangkut guyon soal seks? Misalnya, “Jangan salah. Usia saya emang sudah 50, tapi bawah saya masih kayak 15.”
Nani, 22, Lemahabang, Bekasi
Memang menyedihkan. Pertahanan diri terakhir pria, setelah soal nafkah dan pekerjaan, adalah klaim atas kemampuan seksual. Mereka sadar, soal superioritas ekonomi dan kemampuan profesional akan dengan mudah terpatahkan, tapi soal kemampuan ranjang tak semua wanita berniat (atau sudi) membuktikannya — artinya aman karena menurut lelaki itu tetap menjadi teka-teki (padahal wanitanya cuek, tak ingin tahu lebih lanjut). Menyedihkan.
Ketika wanita membungkuk
17 Desember 2005 at 00:22:15 | In Fashion, Konsultasi, Pergaulan | Leave a CommentSebagai lelaki saya sering tersinggung seolah dianggap tukang intip. Setiap kali membungkuk, misalnya mau naik angkot, wanita selalu menutupi leher dan dadanya. Apakah mereka memang suka curiga terhadap lawan jenis?
Murtaman, 27, Semarang
Santai sajalah. Buktinya di kolam renang, atau saat pakai tanktop yang celahnya lebar, atau saat berbusana terbuka dalam pesta, para wanita nggak mencoba menutupi dada dengan tangannya kan? Rasa tak aman muncul justru ketika mereka sedang tertutup.
Katanya sih “sayang”
16 Desember 2005 at 00:16:58 | In Asmara & seks, Keluarga, Konsultasi | Leave a CommentIstri saya makin aneh dan susah dipahami. Belakangan ini sering lancang menangkat HP saya atau langsung membuka SMS yang masuk, dengan alasan “karena sayang ama Papa”. Kali lain dia mengaduk-aduk tas kerja saya, bahkan membuka notebook saya, dengan alasan “sayang Papa”. Ketika saya sedang meeting, dia terus menelepon. Dia tanya sekretaris di kantor apa betul saya ada di suatu tempat. Dia tanyai satu per satu karyawati baru dan magang di kantor saya, untuk mengetahui kedekatan pribadinya dengan saya. Semua itu, kalau saya tanya alasannya, semata-mata karena “sayang ama Papa”. Kapan itu dia membuang kemeja saya ke got demi kasih sayangnya. Sapu tangan, kaos kaki, bahkan terakhir sepatu, juga dia buang ke bak sampah. Saya stres. Tolong.
Wigunajaya, 30, BSD
Setiap kali dia bilang begitu, imbangilah dengan ucapan, “Papa juga sayang Mama.” Gampang kan?
Gaji cekak, berkeluarga pula
15 Desember 2005 at 00:05:11 | In Inilah hidup!, Konsultasi, Pekerjaan & karier | Leave a CommentGaji saya naik terus. Bukannya saya nggak bersyukur, tapi kenaikan gaji itu juga diimbangi bahkan dilebihi oleh kebutuhan, terutama setelah menikah dan punya anak. Kenapa ya?
Adlisal, 28, Pejompongan, Jakarta
Nggak kenapa-kenapa, Bung. Emang gaji dari kantor tuh buat bujangan, karena yang bekerja ya cuma karyawan yang bersangkutan, tanpa tambahan bininya/suaminya, apalagi anaknya. Tunjangan keluarga, ah apalah artinya. Ibarat kata, ketika bujang gaji Rp 200 sudah cukup, setelah menikah setidaknya kudu jadi Rp 400 — tapi kantor Anda tetap kasih Rp 200 kan?
Malu bercinta di tempat terang
14 Desember 2005 at 00:01:19 | In Asmara & seks, Konsultasi | Leave a CommentSaya malu kalau harus bercinta di tempat terang. Bahkan sekadar remang-remang pun tak suka. Saya maunya gelap total. Tapi kekasih saya maunya terang, alasannya supaya semuanya terlihat jelas, termasuk keindahan tubuh kami. Kalau tanpa lampu, dia langsung lunglai, merasa bercinta dengan makhluk asing yang tak kelihatan. Mohon solusi.
Sonia, 30, Polonia, Jakarta
Sebuah kompromi sih. Mau terang benderang atau temaram, yang penting Anda memejamkan mata.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
